Tags

,

Sabtu, 5 Mei 2012. Sasana Budaya Ganesha, Bandung.

Menampilkan Godbless yang sedang berulang tahun ke-39.

Oleh: Idhar Resmadi

Salah satu hal yang patut diacungi jempol dalam gelaran Symphonesia 2012 pada akhir pekan lalu di Sabuga Bandung adalah keberanian mereka mendatangkan Godbless.

Untuk ukuran penonton yang didominasi remaja usia awal 20-an, tentu saja mungkin mereka mengenal nama Godbless hanya dari orang tua mereka sendiri. Namun, ketika remaja-remaja ini masih mengenal dan mengapresiasi musik Godbless tentu menjadi hal yang penting untuk mengenal karya-karya dari legenda hidup musik Indonesia. Ketika Godbless yang malam itu tampil sebagai salah satu headliner, nampak remaja-remaja ini begitu antusias menyambut Godbless.

Ketika lagu pertama “N.A.T.O” dialunkan penonton sudah mulai bergemuruh menyambut musik Godbless yang sudah sangat lama tidak tampil di Bandung. Pesona band yang beranggotakan Achmad Albar (vokalis), Ian Antono (gitaris), Arya (bass), Abadi Soesman (keyboard), dan Yaya Moektio (drum) sebagai legenda hidup masih memukau lewat beberapa karyanya.

Mereka tampil membawakan karya-karya dari album baru dan album lama. Kali ini mereka manggung tanpa bassist Donny Fattah yang masih terbaring sakit. “Kami doakan semoga Donny Fattah segera sembuh dan bermain bersama Godbless lagi,” ujar vokalis Achmad Albar yang disambut riuh penonton.

Saat lagu “Rumah Kita” dikumandangkan membuat penonton bernyanyi bersama. Padahal lagu yang tepat untuk para dosen mereka ini tak menghentikan adanya koor massal disertai lambaian tangan di gedung Sabuga Bandung. Apalagi suasana lebih meriah ketika lagu “Panggung Sandiwara” yang dibuat tahun 1977 mulai dinyanyikan oleh Godbless.

“Kalian belum lahirkan saat lagu ini dibuat,” canda Achmad Albar.

“Terakhir kali Godbless main di Bandung itu sekitar tahun 1997, jadi sudah hampir 15 tahun kami tidak tampil di Bandung. Terima kasih pada panitia Symphonesia yang mau mengundang kami,” ujar Achmad Albar sebelum kemudian disambut ucapan ulang tahun dari panitia yang membawa kue ulang tahun. Karena pergelaran Symphonesia ini bertepatan dengan hari ulang tahun Godbless ke-39.

“Semoga kami masih diberi kesehatan dan masih bisa menghibur kalian semua terutama di konser akbar Godbless ke-40 tahun depan,” ujar Achmad Albar.

Symphonesia merupakan acara tradisi dari Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. Setelah empat kali digelar, Symphonesia tahun ini mengusung tema Wonders Within Indonesia yang mengajak untuk menghargai kekayaan pariwisata dan budaya dalam negeri. Di sela penampilan band, video latar di depan panggung pun menampilkan keindahan dan kekayaan alam Indonesia.

Paling menarik saat sesi konferensi pers dengan Godbless di hadapan para wartawan, Achmad Albar menuturkan bahwa dukungan pemerintah untuk mendorong pariwisata di sektor musik masih belum terlalu terlihat. Padahal menurut mereka, Indonesia memiliki sektor kekayaan musik dan budaya yang sangat kaya. Pemerintah dianggap masih belum terlalu peduli dan tertarik menjadikan musik sebagai salah satu magnet pariwisata, seperti halnya di Korea dan Singapura.

Entah memiliki hubungannya atau tidak, beberapa band yang tampil beberapa diantaranya merupakan band yang telah melanglang buana ke mancanegara mengenalkan karya musik anak negeri.

Band-band yang tampil di Symphonesia kali ini seperti Bottlesmoker, White Shoes and The Couples Company, dan The S.I.G.I.T. sudah dikenal di berbagai media berkat pencapaian mereka yang berhasil tur di luar negeri.

Bottlesmoker yang telah berkeliling Asia Tenggara tampil pada sore hari dan penampilan mereka yang berbeda kali ini dengan mendatangkan rombongan choir anak kecil dan brass section dari SPDC Universitas Padjadjaran. Beberapa hits mereka seperti “Love Saturday”, “Stringless Purslane”, hingga sebuah cover version Depeche Mode, “Goodnight Lovers” berhasil menghibur penonton.

Setelah Bottlesmoker dilanjutkan dengan sebuah band yang berhasil membawa musik mereka ke Eropa dan Amerika. Beberapa bulan lalu White Shoes and The Couples Company berhasil tampil di Perancis dan Belanda.

Tampil dengan kumis palsu – tentu saja vokalis Sari dan keyboardis Mela tidak memakai kumis – White Shoes and The Couples Company sukses menghentak dengan lagu-lagu berbahasa Indonesia yang sangat khas seperti “Berjalan-jalan”, “Malu Kucing”, “Senja Menggila” dan lagu penutup “Matahari” yang menampilkan unsur musik khas Papua.

The S.I.G.I.T. kemudian menghentak dengan beberapa lagu rocknya yang disambut oleh para Insurgent Army (sebutan fans The S.I.G.I.T.). Band yang telah merilis karya dan tur di belahan Australia dan Amerika sukses memanaskan suasana lewat lagu-lagunya yang terdengar begitu kencang seperti “Soul Sister”, “Horse”, “Clove Dopper”, “Money Making”, dan Black Amplifier”.� Permainan derau gitar Rekty dan Fachri berhasil membakar penonton sebelum kemudian dilanjutkan dengan Godbless.

Band yang tampil terakhir yaitu Sheila on 7. Aksi Duta dan Eross yang komunikatif membuat panggung terasa hidup. Sejak lagu pertama “Pasti Ku Bisa”, “Sahabat Sejati”, “Kita” dan “Hujan Turun”, penonton tampak sudah familier dan selalu sing along bersama vokalis Duta. Puncaknya adalah ketika lagu “Dan” dikumandangkan, hampir semua penonton bernyanyi bersama dari awal hingga akhir lagu. Duta dan Eross hanya tersenyum sendiri saja di atas panggung.

“Padahal lagu ini dibuat hampir sekitar 16 tahun lalu. Makasih yang masih hafal dan tetap bernyanyi bersama kami, karena berkat kalianlah sebuah band bisa bertahan, seperti Godbless yang sudah puluhan tahun,” ujar Duta yang tak lama kemudian disambut nyanyian ulang tahun dari Sheilagank Parijs Van Java. Esok harinya, tanggal 6 Mei 2012, merupakan ulang tahun Sheila On 7 ke-16.�

Konser pun ditutup oleh lagu “Melompat Lebih Tinggi” yang membuat Duta melakukan stage diving ke arah penonton. Lagu “Hari Bersamanya” menjadi puncak penutup pergelaran Symphonesia 2012 secara klimaks.
(RS/RS)

 

http://rollingstone.co.id/read/2012/05/11/202938/1915407/1108/live-review-symphonesia-2012