Tags

, ,

Band sejuta keping asal Yogyakarta ini bercerita panjang lebar tentang album terbaru, pengaruh musik, RBT dan rumor bubar.

Oleh: Fakhri Zakaria
Jakarta – Setelah bangkit kembali lewat rilisan Menentukan Arah pada tahun 2008 lalu, band asal Yogyakarta, Sheila On 7, belum lama ini telah merilis album barunya yang bertitel Berlayar di bawah bendera label mereka sejak akhir ’90-an, Sony Music Entertainment Indonesia.

Ini merupakan album studio ketujuh bagi band yang beranggotakan vokalis Akhdiyat Duta Modjo (Duta), gitaris Eross Candra (Eross), pemain bas Adam Muhammad Subarkah (Adam) dan pemain drum Brian Kresno Putro (Brian) ini. Plus dua tambahan dari album OST. 30 Hari Mencari Cinta dan album The Very Best of Sheila on 7.

Ditemui Rolling Stone selepas menjadi pengisi acara di pentas seni SMA Regina Pacis, Bogor, beberapa waktu lalu, band yang pernah dijuluki sebagai one million copies band ini berbagi cerita tentang album Berlayar yang menurut mereka lebih “keras”, keyakinannya akan album fisik ketimbang Ring Back Tone, juga kriteria kedewasaan bagi sebuah band.

Mengapa jeda antara keluarnya single pertama dengan rilis albumnya cukup lama kemarin ini?

Adam : Waktu itu memang album belum jadi tapi single “Hari Bersamanya” sudah keluar. Memang sengaja single dibuat lama, maklum, era RBT (tertawa). Dan juga waktu itu sempat ada bencana Merapi juga.

Brian : Kami nggak bisa memaksakan diri bekerja ketika di Yogya sedang terjadi bencana. Kami memikirkan keluarga masing-masing dulu. Rekaman jadinya agak lama, hampir setahun. Sebetulnya sejak “Hari Bersamanya” keluar, kami lumayan banyak off air di Yogya, jadi lumayan tersendat. Ketika mulai fokus menyediakan waktu untuk mengerjakan album, tiba-tiba Merapi meletus.

Apa faktor mundurnya manajer juga cukup berpengaruh ? (catatan: Anton Kurniawan, manajer mereka yang bergabung sejak 12 tahun lalu memutuskan mengundurkan diri per 1 April 2010)
Adam : Ya, itu termasuk juga, tapi bukan menghambat. Sejak mas Anton resign, kami jalan sendiri, banyak yang harus dibenahi. Aku lebih ke program off air-nya, Duta yang mengurus kantor.

Bagaimana gambaran konsep musik di album terbaru ini kalau dibandingkan dengan album sebelumnya, Menentukan Arah?
Adam : Beda. Tapi intinya kami dari dulu selalu memainkan apa yang kami sukai. Tapi kami termasuk beruntung. apapun yang kami lakukan, menurut orang-orang kami punya ciri khas. Dari album pertama kami nggak pernah menjaga ciri khas atau benang merah. Benang merahnya ya tetap have fun. Di album ini sound-nya berubah ke sound yang ngeband. Materinya segar. Ada banyak hal yang belum pernah kami lakukan. Kalau dibawakan lebih terasa keras, ada yang pure rock & roll. Tema-tema juga lebih dewasa.

Eross: Sekarang lebih kompleks ya, lebih beragam. Kalau Menentukan Arah kan suasananya santai. Kalau yang sekarang upbeat-nya lebih banyak, isiannya lebih banyak, nggak sesederhana Menentukan Arah.

Adam: Lagu-lagunya bakal lebih cocok untuk dibawakan live di atas panggung.

Apa perubahannya akan sedrastis seperti saat album 07 Des ke album Pejantan Tangguh?
Adam: Nggak. Perubahannya itu lebih terasa ke sound yang ngeband.

Eross: Nggak sampai segitu. Cuma ada beberapa beat-beat dan progressive chord yang Sheila On 7 belum pernah main. Jadi lebih segarlah.

Apa musik yang mempengaruhi kalian saat menggarap album ini?
Eross: Wah, nggak ingat [tertawa]. The Beatles.

Adam: Agnes Monica dan Britney Spears [tertawa]. Tapi bener lho. Sebetulnya apa saja aku dengar. Band-band ’90-an seperti Guns N’ Roses, Metallica, Skid Row, Mr. Big, itu selalu jadi main hearing. Gigi album 3/4 dan 2X2, Power Slaves, juga Dewa 19 album Terbaik, Terbaik. Slank itu pasti.

Album Menentukan Arah dianggap sebagai kebangkitan Sheila On 7 setelah beberapa waktu namanya sempat tenggelam. Apakah ada keinginan untuk melanjutkan momentum itu di album ini?

Duta : Itu kan tanggung jawab musisi. Kalau itu dianggap kontinuitas kami senang-senang saja. Artinya, orang bisa menerima. Ternyata anak-anak yang bikin pensi ini dengar Sheila On 7dari kelas 3 SD. Sekarang sudah kelas 3 SMA. Dulu diantar bapaknya untuk beli kaset Sheila On 7, sekarang bikin acara sendiri. Selama semangat kami masih sama saat dulu membentuk band ini, kami nggak akan pernah merasa di atas atau di bawah.

Sebelumnya Sheila On 7 sering diisukan bubar saat dulu Eross dan Brian membentuk Jagostu, lalu baru-baru ini Duta dan Adam punya side job di Yakuyaya. Ada konfirmasi resmi untuk isu ini?

Adam: Yakuyaya itu sebenarnya proyek Duta. Duta bikin duo dengan Fery (Fery Efka, additional keyboardist Sheila On 7). Mungkin dia kasihan sama aku yang nggak ada kerjaan, akhirnya aku diajak [tertawa]. Aku di sana main gitar. Biar beda dengan Sheila On 7.

Duta: Yang jelas, kalau semua band ditanya kapan mau bubar jawabannya pasti nggak akan bubar. Buat Sheila on 7, kami malah mengeluarkan album baru. Dalam setahun kemarin kami bikin materi. Itu bukti kuat bahwa yang dibilang mau bubar nggak ada kan? Kami akan tetap ingar bingar di musik Indonesia [tertawa].

Kalian semua masih percaya dengan album fisik?
Duta: Kami bikin album, bukan bikin single. Untuk identitas band sampai kapan pun aku nggak akan pernah luntur punya pandangan bahwa album itu harga mati buat band. Nggak ada band yang lagunya cuma satu atau dua, one hit wonder. Kalau seumur hidup mau main sama band lain terus ya nggak apa-apa, cuma punya satu atau dua lagu. Tapi kalau sebuah band baru mau punya impian tur, pasti butuh banyak lagu. Kalau ingin buat konser tunggal ya harus punya album. Satu konser tunggal minimal kan 15 lagu. Itu minimal harus punya dua album. Buat kami yang penting bikin karya sebanyak-banyaknya untuk buat album. Mau jualannya bagaimana, kami sudah punya label. Kami serahkan ke sana.

Anda tadi menyebut tentang konser tunggal, ada impian untuk membuat konser tunggal? Semegah konser “11 Januari”-nya Gigi di Yogya tahun 2008 lalu misalnya?
Duta: Sheila on 7 sudah sering konser tunggal. Tapi kalau yang megah pasti adalah keinginan. Apa yang dilakukan oleh senior dan bagus, pasti kami juga ingin. Kami tunggu beberapa tahunlah sampai kami bisa ke arah itu .

Sebagai band yang pernah berjaya di era album fisik dan sekarang masuk ke era Ring Back Tone, apa strategi hidup bertahan dari seleksi alam ala Sheila On 7?
Duta: RBT bukan jalan selamat bagi band, itu jalan buat industri. Memang ada pendapatannya, tapi apa benar menyelamatkan kalau semua orang akhirnya beli RBT tapi nggak beli album fisik? Itu sama juga membunuh kan? RBT jadi appetizer atau dessert boleh, itu bagus. Tapi jangan pernah sampai jadi main course. Misalnya dalam satu tahun band ini bikin sepuluh lagu, berarti ada sepuluh lagu bagus. Kalau cuma bikin satu atau dua lagu berarti kami cuma punya satu atau dua lagu bagus. Jadi strategi hidup bertahan dari seleksi sang alam untuk Sheila On 7 ya, bikin karya sebanyak-banyaknya dan sebagus-bagusnya.

Jika dianalogikan siklus hidup manusia, apa kriteria sebuah band bisa dianggap sebagai band dewasa dari kacamata Sheila On 7 yang sudah berkiprah di industri musik Indonesia sejak tahun 1999?
Duta: Kalau yang Sheila On 7 pernah alami, biasanya album ketiga atau keempat itu umur sebuah band. Ada pertentangan untuk meneruskan perjuangan itu atau nggak . Itu untuk menentukan band ini dewasa atau nggak. Di Sheila On 7 ya di album Pejantan Tangguh. Istilahnya gunung meletusnya, puncak segala masalah. Kami benar-benar belajar di masa itu. Masalah enak nggak enak sebagai temen dan temen kerja. Di album satu sampai tiga kami lari dari masalah, masih menganggap bukan masalah besar. Ya mudah-mudahan jangan sampai terjadi lagi. Buat Sheila on 7 yang sudah 15 tahun, kami inginnya attitude dalam bermusik dan di luar musik benar-benar dewasa meski baru 15 tahun. Tapi kami ingin semangatnya tetap seperti anak umur 15 tahun yang nggak gentar akan apapun.

Apa band Indonesia yang masuk kategori itu?
Duta: Yang jelas yang di atas-atas kami. Tapi dulu kami dapat wejangan itu dari mas-mas Gigi. Saya belajar banyak dari mas Armand Maulana. Kata mereka, kalau bisa lewati album keempat dengan formasi sama, formasi itu bisa bertahan lama.

Akhir tahun lalu beberapa musisi Yogya membuat album Jogja Istimewa 2010 yang dipersembahkan untuk Yogya. Ada keinginan serupa dari Sheila On 7 untuk kota tercinta, membuat lagu misalnya?
Duta: Kalau bikin lagu buat Yogya, ya inspirasi banyak banget. Tapi kami nggak terus membuat keinginan dalam diri. Sebenarnya membuat lagu tentang apa yang membuat kami nyaman itu gampang banget. Intinya buat kami, Yogya apapun baik dan buruknya, kenangannya lengkap banget. Sangat banyak inspirasinya.

Terakhir, gambarkan album terbaru dalam satu kalimat.
Duta: Contoh baik bagi para musisi…
Eross, Adam, Brian: Insya Allah.

(RS/RS)