Sakti eks-SO7: Sekarang Dengerin Yusuf Islam

23 11 2008


Setelah cabut dari Sheila On 7, Sakti ternyata sama sekali nggak meninggalkan dunia musik. Meskipun dia mengaku, seleranya udah banyak berubah. Pengen tau kabar terbaru dari Sakti? Kebet aja obrolan Hai bareng santri eks-rockstar ini.

 

Apa kabar, Sak? Ke mana aja nih?
Halo, Hai! Kabar aku alhamdulillah baik-baik aja. Ada aja kok di sekitar Yogya. Hehehe…

Nggak bermusik lagi?
Hmmm… Nggak. Nulis-nulis syair sih masih, tapi temanya lebih ke religi. Aku bikin itu sebagian besar juga buat koleksi pribadi aja sih. Sebagai salah satu sarana penyaluran hobi. Sama sekali nggak berminat untuk menjadikan ini sebagai pekerjaan. Aku ada rencana sih untuk ngeluarin album religi, tapi nggak sekarang. Mungkin tahun depan.

Gimana pandangan kamu tentang musik religi saat ini?
Kalo aku sih menganggapnya bagus ya. Apalagi musik religi yang kalo didengar bisa bikin orang merasa lebih dekat sama Allah. Wah, kalo sampai bisa kayak gitu kan berarti itu ibadah untuk musisinya.

Nggak nganggap ini cuma strategi para musisi untuk cari duit setiap bulan Ramadhan?
Ah, aku sih nggak mau begitu. Aku sih melihat dari kebaikannya aja ya. Menurutku itu sesuatu yang bagus. Lagipula hati manusia siapa yang tahu sih? Niat mereka bikin lagu religi itu apa, kan hanya mereka yang tahu. Memangnya kita Tuhan, bisa baca hati mereka. Ya kan? Hahaha… Semakin banyak yang bikin lagu religi, menurut aku sih malah semakin baik. Kalo ada yang nuduh ini lah, apa lah, yaaa… itu urusan mereka sama Allah lah. Kita nggak berhak ikut campur.

Menurut kamu, bikin lagu religi itu harus diimbangi sama perbaikan akhlak dan perilaku nggak?
Buat aku, bikin lagu religi itu salah satu cara menyemangati diri sendiri dalam beribadah. Perilaku itu nanti berubahnya dari lagu. Jadi tujuan utamanya sih bagi aku lebih ke diri sendiri aja, untuk menyemangati diri sendiri. Semoga aja suatu hari nanti apa yang ditulis dan dinyanyikan itu bisa ngefek ke penyanyinya sendiri. Lagu kan sebenarnya salah satu bentuk doa.

Musisi religi bisa ‘jualan’ nggak sih? Kalo bukan bulan Ramadhan kan kayaknya susah jualan album religi.
Kata siapa? Justru lagu religi itu lebih stabil dibanding lagu-lagu biasa, karena musik religi itu nggak ada masa kadaluarsa. Tenggat waktunya panjang, masa jualannya lama. Sampai kiamat lho! Ya mungkin jualannya nggak langsung sekaligus sejuta kopi, puncaknya di bulan Ramadhan misalnya. Tapi kan masanya panjang sekali.

Kamu nggak kangen ngeband lagi, Sak?
Hahaha… Nggak sih ya. Temen-temen di Sheila juga kadang-kadang masih suka ngajakin aku main bareng kok. Lagian kalo aku kangen sama anak-anak Sheila kan aku tinggal main aja ke studio mereka, ketemu anak-anak. Kalo kangen manggung sih nggak. Setiap lihat Sheila On 7 di TV misalnya, itu juga aku biasa aja. Udah nggak ada keinginan lagi sih buat manggung-manggung.

Sama popularitas, nggak kangen juga?
Popularitas itu hadiah ya, menurut aku. Kalo kita berhasil membuat karya yang bagus dan disukai banyak orang, hadiahnya ya popularitas. Dan popularitas itu nggak selamanya buruk lho. Asal ketenaran itu bisa dipake buat kemaslahatan, buat kebaikan, ya jadinya bagus kan. Tapi secara pribadi sih aku nggak begitu kangen dengan popularitas.

Emang apa sih yang dulu bikin kamu memutuskan buat berhenti ngeband?
Namanya juga band ya. Band itu kan tim. Dalam satu tim, seluruh anggotanya harus punya satu visi. Harus punya visi yang sama. Sementara waktu itu di Sheila udah beda, udah nggak seperti itu. Lagipula aku pengen menyederhanakan hidup aja. Prinsip aku kan simple life, simple problem. Semakin sederhana hidup, semakin sedikit masalah. Hahaha… Jadi aku memutuskan untuk konsentrasi sama satu hal aja, sama hidup aku. Yang lain-lain aku tinggalkan biar bisa fokus.

Ngeband bikin hidup kamu nggak simple dong ya?
Yaaa… Waktu aku masih ngeband, banyak banget waktu yang harus aku korbankan untuk pekerjaan itu. Aku jadi nggak ada waktu buat yang lain. Sekarang setelah berhenti ngeband aku jadi lebih bisa mengatur roda kehidupan aku. Kegiatan aku jadi lebih tertata, teratur secara baik. Aku juga ngejalaninnya bisa lebih konsentrasi dibanding dulu, karena fokus aku ya cuma satu. Nggak perlu mikirin ngeband.

Tapi kamu masih ngikutin perkembangan musik nggak?
Oh kalo itu masih.

Siapa aja yang lagi kamu dengerin?
Lokal atau luar nih? Kalo luar aku suka Yusuf Islam. Yang lokalnya ya itu tadi, Opick. Sama Ungu, paling. Lagu-lagu religinya Ungu.

Yang bukan musisi religi?
Hmmm… Lagu-lagu pop, rock, gitu ya? Wah, itu aku nggak… Gimana ya? Aku tahu sih beberapa, tapi aku nggak dengerin bener-bener. Sekarang udah nggak ke situ sih minatnya. Lebih ke musik religi.





Astrid Tiar Ogah Pacari Eross ‘SO7′

20 11 2008

JAKARTA – Astrid Tiar pernah menjalin asmara dengan Eross ‘Sheila on 7′. Astrid ogah jika harus mengulang pacaran lagi dengan bekas kekasih Leony itu.

“Aku sudah lama nggak kumpul sama dia, tiba-tiba digosipin pacaran lagi. Padahal, Eross itu sudah masa lalu aku,” jelas Astrid yang ditemui okezone di Studio 1 RCTI, Jakarta Barat, Rabu (19/11/2008) malam.

Artis yang juga pernah pacaran dengan Gading Marten ini menganggap Eross tak lebih dari sekadar teman.

“Dia sahabat teman aku. Lagipula kita sebatas teman saja. Kita tidak akan jadian lagi karena kita berbeda agama,” ungkapnya.

Ketika terus didesak soal kemungkinan balikan lagi dengan Eross, Astrid menghindar.

“Dia sudah masa lalu saya. Itu sudah tujuh tahun lalu. Sudah ya, tolong jangan dihubung-hubungkan lagi. Biarlah yang lalu, berlalu. Kita menatap masa depan saja,” tukasnya.
(ang)





Menentukan Arah: So7 Kembali ke Akar

17 11 2008

Sheila On 7 (So7) mencoba lagi peruntungan mereka dalam industri musik Indonesia. Dalam album baru mereka ini, Menentukan Arah, Duta (vokal), Eross (gitar), Adam (bas), dan Brian (drum) berusaha kembali ke akar mereka dengan memakai pola musik yang serupa dengan album-album laris mereka terdahulu.

Untuk sound, agaknya mereka mengambil model yang mereka terapkan untuk album 07 Des. Begitu pula dengan aransemen lagu-lagunya.

Album yang dirilis akhir Oktober lalu ini berisi 10 lagu. Single Betapa, yang sudah diperdengarkan lewat radio-radio dan dijual sebagai RBT tiga bulan sebelum album ini dirilis, membawa angin segar. Lagu yang catchy–dengan aransemen simple dan lirik tentang patah hati–sekaligus berbobot itu memiliki kekuatan untuk menaklukkan telinga para penggemar musik pop Indonesia. Lagu tersebut juga tak terkesan cheesy dengan aransemen sedikit up-beat yang ditingkahi permainan drum-loop.

Yang Terlewatkan menjadi single kedua album ini. Dari melodi, lirik, dan aransemennya, lagu itu bertipe lagu yang jadi favorit para penyuka musik pop Tanah Air. Tapi, meskipun mellow, lagu tersebut tidak menghadirkan kesan Melayu yang mendayu-dayu, yang kini ada pada mulai banyak hit Indonesia. Dalam lagu itu Eross murni memainkan gitar akustik minus distorsi dan Adam menggunakan bas fretless untuk memperkuat kesan balada.

Lagu Mudah Saja tampaknya berpotensi untuk menjadi hit selanjutnya So7. Lagu balada tersebut terdengar mengalir dan tulus, tanpa ada sesuatu yang dipaksakan. Dalam lagu itu Duta sedikit memasukkan gaya bernyanyi yang bluesy. Sementara itu, lagu Arah menjadi istimewa bagi Adam, karena untuk pertama kalinya ia memainkan line bas beraroma swing.

Dengan lagu Lia Lia Lia, So7 menunjukkan kemampuan mereka mencipta dan memainkan pop-teaterikal, yang rada rumit, sehingga tetap terdengar simple dan mudah dicerna.

Alasanku menjadi lagu paling hening di album ini. Hanya berbekal petikan gitar akustik dan sedikit hiasan orkestra string, Eross dan Duta berusaha untuk mencipta suasana yang mengaduk-aduk perasaan hati. Usaha mereka itu berhasil.

Duta bermain di nada-nada tinggi pada Segalanya. Lagu tersebut dipersembahkan untuk Sheilagank, sebutan untuk para penggemar fanatik So7. ”

Sampai Kapan, di penutup, menjadi lagu terkeras dalam album ini. Tapi, asal tahu saja, tak sekeras Sahabat Sejati, Karena Aku Setia atau Pejantan Tangguh, yang ada dalam album-album terdaulu mereka.

Album Menentukan Arah ini boleh dibilang berhasil memadukan antara kualitas dengan komersialitas. Mudah dicerna, nyaman didengar, sekaligus tetap bisa dipertanggungjawabkan dari segi kualitasnya.

Jika momentumnya tepat, bukan tidak mungkin So7 akan menjual album ini hingga menembus angka 500.000 keping lebih. Namun, tipis kemungkinan untuk mengulang angka sejuta copy atau lebih, yang pernah mereka capai dengan beberapa album mereka sebelumnya, mengacu ke kondisi pasar dan industri musik Indonesia sekarang. (Adhika Prasetya/Kompas TV) 





Belum Dapat Sponsor, Sheila on 7 Belum Tur

16 11 2008

JAKARTA, SABTU – Harus diakui, Sheila on 7 kini bukan lagi bintang cemerlang dalam industri musik Indonesia. Salah satu buktinya, setelah meluncurkan album baru, Menentukan Arah, dengan single pertama Betapa, mereka tak bisa langsung melaksanakan tur konser karena belum mendapat sponsor. 

Kondisi itu berbeda dengan ketika mereka masih meraja dengan hit-hit seperti Sephia atau Jadikan Aku Pacarmu. “Kalau sekarang belum tur, itu karena belum dapat sponsor. Lain dengan waktu album sebelumnya, cepat dapat sponsor untuk tur 30 kota,” ujar Duta, vokalis Sheila on 7, sekaligus mewakili tiga personel lainnya, Eross (gitar), Adam (bas), dan Brian (drum).

Dengan kenyataan tersebut, sekarang Duta bersama Eross, Adam, dan Brian tak ingin berpikir yang jauh-jauh. “Untuk sekarang gue cuma ingin manggung yang baik dan ingin seperti album-album sebelumnya yang mendapat sambutan dari penonton yang excited,” harap salah satu juri Idola Cilik ini.





Duta SO7: Musik Jangan Dikaitkan Isu Terorisme

16 11 2008

Kapanlagi.com – Konser Rihanna seharusnya berlangsung malam ini, Jumat (14/11) di Istora Senayan, Jakarta. Namun lantaran travel warning dari pemerintah Amerika Serikat (AS), konser itu batal dilaksanakan. Kenyataan itu yang kemudian mengundang Duta, vokalis Sheila On Seven ikut angkat bicara.

 

“Kalau masalah itu menurut gue tergantung ama artisnya, kan mereka cuman dikasih peringatan, kalau menurut gue sih mending tetap manggung, karena sebelum mereka, tetap ada artis yang manggung meski dapat travel warning,” ungkap Duta merujuk pada sebuah konser beberapa tahun lalu.

 

Duta sendiri dengan pelantun lagu The Umbrella itu, mengaku tidak tahu banyak, namun menurutnya dunia musik tidak seharusnya dikaitkan dengan isu terorisme.

 

“Ya sebagai anak band sih nggak kecewa banget, soalnya aku cuma tahu dikit tentang Rihanna, tapi seharusnya musik nggak bisa disatuin dengan hal-hal seperti itu,” ungkap Duta di acara rilis program Idola Cilik 2 di Pisa Cafe, Mahakam, Jakarta Selatan, Jum’at (14/11).

 

Duta berharap untuk konser grup idolanya, Extreme yang akan manggung di Jakarta, jangan juga ikut-ikutan gagal seperti konser Rihanna ini. Extreme yang terkenal dengan lagunya, More Than Words itu direncanakan dalam waktu dekat akan manggung di Jakarta, meski belum ada kepastian tanggalnya.

 

“Jangan deh, jangan sampai mereka batal, gue bisa nangis kalau Extreme tidak manggung,” pungkas pria bernama lengkap Akhdiyat Duta Modjo





Duta SO7 Semakin Sakit Hati Bila Ingat Pembajakan

15 11 2008

Kapanlagi.com – Pembajakan di Indonesia seperti telah menjadi wabah penyakit yang sudah akut, bahkan nyaris tak mampu disembuhkan. Begitulah sekiranya yang tergambar di benak personel Sheila on Seven, Duta ketika dimintai komentar. Ia memilih bicara persoalan lain, daripada hatinya harus bertambah sakit.

 

“Mending kita nggak usah mikirin hal seperti itu, soalnya kita semua tahu kan kondisi pembajakan di Indonesia seperti apa, kalau banyak memikir hal seperti itu makin banyak sakit hatinya,” ungkap Duta saat rilis program Idola Cilik 2 di Pisa Cafe, Mahakam, Jakarta Selatan, Jum’at (14/11).

 

Meski demikian Duta tidak akan surut untuk terus berkarya dan memberikan performance terbaik lewat grup bandnya.

 

“Sekarang aku berpikir, bagaimana menjadi orang yang baik, bisa tampil di panggung dengan baik. Hingga orang-orang yang nonton gue, bisa excited, sama kayak yang dulu, itu yang membuat gue senang dan bangga,” ungkap Duta yang juga mengaku belum tahu total angka penjualan album dan RBT terbarunya, MENENTUKAN ARAH.  (kpl/ant/dar)